Rabu, 23 November 2016

(YANG KATANYA) Pecinta Alam Tetapi Nyatanya Karbitan


“Hi kamu! Dapet salam dari Puncak Lawu”

            “Adek kapan ndaki bareng abang? Mt Sumbing 3371 mdpl”

            “Nak ini mama waktu muda, Rinjani 3726 mdpl”

Sering melihat tulisan-tulisan sejenis itu bukan? Ya, naik gunung, belakangan ini menjadi kegiatan favorit semua kalangan. Dari pelajar, mahasiswa, bapak, ibu, manula, single, taken dan lain-lain. Pokoknya semuanya. Sepertinya kegiatan naik gunung sudah tidak semengerikan jaman dulu. Sekarang gunung sudah ramai warna warni tenda, terlebih pada saat hari-hari tertentu seperti hari kemerdekaan atau hari pahlawan diperingati. Tidak jarang, banyak pendaki yang harus rela tidak kebagian tempat untuk mendirikan kemah. Saya pribadi juga belum lama menjadi penikmat ketinggian gunung. Ijin yang diberikan Ibu belum lama turun, tepatnya menginjak semester 1 kuliah, saya baru diijinkan naik gunung, itupun naik gunung 2 kali nekat tanpa ijin. Sekali pemberontak tetaplah pemberontak

Tetapi bukan kisah hidup saya atau cerita pengalaman naik gunung yang ingin saya tulis disini.

Menjadi seorang pendaki atau yang mengatas-namakan pecinta alam, sudah sejatinya kalian benar-benar menghayati dan menerapkan apa yang telah kalian akui dan agung-agungkan. Kondisi gunung saat ini sangat kritis. Sampah dimana-mana, seperti sampah botol, plastik, limbah sisa masak, sampai kertas-kertas tulisan alay yang tersebar di gunung. Sebenarnya apa yang ingin kalian buktikan pada saat kalian naik gunung? Apakah kalian merasa hebat jika sudah berada di puncak gunung ini, puncak gunung itu? GUNUNG BUKAN TEMPAT SAMPAH!! Saya juga suka menulis saat mencapai puncak, untuk ucapan ulang tahun ibu saya setiap tahunnya. Tapi saya selalu berusaha untuk membawa sampah saya kembali turun dan dibuang dibasecamp. Bukankah sebelum kalian memulai pendakian pasti ada briefing singkat dari tim basecamp setempat? Tentang apa saja yang boleh dan dilarang saat kalian menyambangi gunung tertentu. Tetapi, para pendaki kekinian sepertinya menganggap sepele hal tersebut. Peraturan-peraturan dilanggar, bersikap tidak sopan, berlaku seenaknya, dan tidak menghormati alam.

Membuang sampah sembarangan

Tidak hanya sampah kertas tulisan-tulisan untuk orang terkasih, tapi mulai dari sampah plastik, botol kecap sampai pembalut wanita sangat sering saya jumpai di gunung. Sebernarnya apa yang memotivasi kalian naik gunung? Agar menuai pujian dinilai sebagai seorang yang tangguh karena sudah naik gunung sana-sinj? BASI! Gunung bukan tempat sampah besar yang bisa seenaknya kalian gunakan untuk membuang limbah senang-senangmu, kawan. Bawalah kembali sampahmu turun, kita semua ingin agar anak cucu kita masih bisa menikmati keindahan Indonesia kan? JAGA KEBERSIHAN GUNUNG!

Tidak memenuhi standar pendakian

Memakai sandal jepit. Gunung bukan mall atau jalanan aspal yang bisa membuatmu nyaman ketika memakai sandal jepit, memakai sepatu gunung sangat dianjurkan agar menghindari kesleo, gigitan hewan tanah seperti lintah, kram otot, atau yang paling parah hypotermia. Logistik yang seadanya. Membawa logistik sesuai perhitungan sangat penting ketika kalian akan melakukan pendakian, hitunglah berapa kali kalian makan selama digunung, lebih baik logistik sisa daripada kekurangan, terlebih persediaan air minum. Jika logistik kalian sisa, bisa diberikan kepada penjaga pos atau pendaki lain, jangan bersikap sok jagoan dengan membawa logistik seadanya, karena dapat berakibat fatal, ingat, gunung bukan perkotaan yang serba ada. Tidak membawa jaket dan baju ganti. Meskipun kalian sudah khatam naik gunung, tetap saja alam tidak dapat diprediksi, badai dan hujan bisa terjadi sewaktu-waktu, jadi membawa jaket dan baju ganti sangat dianjurkan. Terlalu banyak membawa barang tidak penting, seperti kamera dslr, gopro, action camp, tripod, tongsis dll bisa jadi merugikan diri kalian sendiri. Kalian sedang berada digunung, bukan di taman kota atau dufan. Mengabadikan momen terlebih pada saat digunung memang sangat menyenangkan, tetapi jangan lupa untuk mengutamakan keselamatan daripada kekinian.

MEMETIK BUNGA EDELWEIS

Hal yang paling saya sesalkan ketika naik gunung adalah melihat sebagian orang yang dengan sengaja memetik bunga abadi nan cantik ini untuk dibawa pulang. Sebagai seorang  yang (mengaku) mencintai alam, sudah sepantasnya menjaga kelestarian bunga edelweis. Bukan malah memetiknya lalu diberikan kepada pasangan. Bunga edelweis sangat dilindungi di gunung, terlebih ada beberapa warga lokal yang memanfaatkan bunga edelweis sebagai mata pencaharian. Jangan menjadi pendaki yang tidak tahu diri dengan seenaknya memetik edelweis. Memang cantik, tapi alangkah lebih cantik jika tidak di rusak, diabadikan dalam potret saja sudah cukup. Jika ingin memberikan pada yang terkasih, lebih baik kalian ajak pasangan kalian naik gunung agar bisa melihat edelweis bersama. Tentu akan lebih romantis

Saya pribadi bukan mahasiswa pecinta alam, hanya mahasiswa biasa yang menjadikan gunung sebagai tempat pelarian paling menantang dikala saya sudah penat dengan dunia perkuliahan dan menemukan tempat meditasi dan instropeksi diri terbaik. Karena bukan gunung yang saya taklukan, tapi diri sendiri.


Saya Estu Nasuha Isna, yang alhamdulillah masih mahasiswa, salam hangat dari saya pecandu ketinggian dan pecinta senja. Salam lestari!

Jumat, 18 November 2016

Jog(JAKARTA)


Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai seseorang yang telah menetap di Jogja selama 19 tahun lebih, tentunya kota Jogja bagi saya bukan sekedar tanah kelahiran, tapi sudah seperti rumah. Membicarakan Jogja tidak hanya melulu soal tugu, malioboro dan angkringan. Jogja lebih dari sekedar bersahaja dan kadang kelewat ramah kepada manusia sehingga manusia justru tidak menghargai kearifan lokal kota dengan slogan berhati nyaman. Seniman profesional sampai seniman jalanan bisa kalian jumpai saat kalian berkunjung ke kota gudeg ini. Jika kalian sempat, sambangi Malioboro dan kalian akan menyaksikn jutaan sudut yang penuh dengan karya seni. Ah...Jogjakarta! setiap orang yang pernah menetap, atau hanya sekedar singgah pastilah setuju bahwa setiap sudut kota Jogja itu romantis. Keistimewaan kota Jogja bukan hanya karena kota Jogja dipimpin oleh seorang Sri Sultan Hamengkubuowno sebagai seorang raja sekaligus gubernur, akan tetapi keramah-tamahan masyarakat kota Jogja menjadi daya tarik tersendiri. Kehangatan kopi joss dan canda tawa yang mengepul diudara oleh manusia-manusia yang ber haha hihi denga  kawan, sahabat atau kekasih, yang semakin malam justru semakin syahdu, menambah keistimewaan Jogja yang sejak ratusan tahun lalu sudah istimewa. Diselingi kata-kata kasar (misuhan) yang nyatanya malah menambah keakraban,

“Asuuuuu nengndi wae koe nyuk lagi ketok?”
“Wah aku sibuk kuliah boskuuu, bajilak tugas karo laporan e sak brayat”
“Hahahaha yawes kene lungguh kene karo ngopi, kangen aku ro koe sui ra weruh tak kiro nek mati”
“Cocoteeee”

Lalu mereka tertawa bersama-sama. Di Jogja, dalam keadaan tertentu, misuh bukanlah sesuatu yang bisa menimbulkan perpecahan, malah kadang, misuh adalah simbol kekariban.

Tapi bukan sisi baik dari Jogja yang membuat saya mau repot-repot menulis dihari sabtu yang sangat cerah sedikit mendung dan enaknya buat tidur.

Jogjakarta sekarang ini sudah sangat jauh berbeda dengan Jogja waktu saya kecil dulu. Mendapati julukan sebagai kota pendidkan, kota batik, kota pelajar dan kota periwisata nyatanya tidak selalu membawa dampak baik bagi tubuh Jogjakarta sendiri. Tidak bisa dipungkiri memang, memiliki salah satu kampus terbaik dan tertua di Indonesia membuat kota Jogja menjadi salah satu destinasi paling banyak diminati bagi pelajar yang ingin memperjuangkan gelar sarjana dan diploma. Akan tetapi, seiring bertambahnya jumlah mahasiswa, meningkat pula volume kendaraan yang memadati jalanan setiap jam-jam tertentu dan tak jarang menimbulkan kemacetan. Jogja memang tanah rantauan yang paling ramah jika dibandingkan dengan kota lain, selain living cost yang terbilang murah, kota Jogja tidak terlalu “berbahaya” bagi pendatang baru.

Akan tetapi, lagi-lagi bukan kemacetan yang ingin saya garis bawahi disini.

 Gemuruh pembangunan hotel, apartemen, pusat perbelanjaan dan lain-lain yang semakin lama semakin mengerikan dan terkesan kebut-kebutan membuat saya pribadi sedikit heran dan takut. Menjadi kota wisata yang paling diminati tentunya ini adalah konsekuensi yang harus ditanggung. Jumlah turis yang semakin lama semakin padat merayap membuat demand akan fasilitas-fasilitas penunjang kebahagiaan meningkat. Apakah izin pembangunan hotel dan kawan-kawannya itu memang sangat mudah di Jogjakarta? Saya kurang mengerti, yang saya tahu, pembangunan gedung pencakar langit yang gila-gilaan ini justru akan mengancam keistimewaan kota kelahiran saya. Lantas jika nantinya kota Jogja dipenuhi gedung-gedung tinggi, apa bedanya daerah istimewa ini dengan ibu kota yang infrastrukturnya amburadul itu? Melihat potensi kota Jogja yang menggiurkan beberapa dekade kedepan, membuat banyak sekali investor yang berlomba-lomba menanamkan saham di Jogja. Untuk sekedar membayangkannya saja sudah sangat mengerikan. Lantas apakah anak cucu kita nantinya tidak akan bisa mengenal keistimewaan Jogja selain karena dipimpin seorang raja? Lari kemana kearifan-kearifan yang selama ini dibangga-banggakan?
Sudahkah pemerintah daerah mempertimbangkan dampak apa saja yang akan ditimbulkan dari balapan pembangunan ini? Bagaimana dampaknya bagi lingkungan? Apakah AMDAL nya sudah benar dan tepat? Selain dampak terhadap lingkungan yang berupa pencemaran limbah yang dapat merusak ekosistem tanah, sungai dan lain-lain, apakah pemerintah sudah mempertimbangkan dampak sosial yang akan timbul dalam masyarakat? Kesenjangan sosial, melahirkan generasi yang apatis dan hanya mau memikirkan diri sendiri. Mengapa sepertinya regulasi sekarang ini sangat berpihak kepada para pemegang uang dan semakin menyudutkan rakyat lokal yang notabene tidak mempunyai uang sebanyak mereka yang menamai diri mereka investor. Saya bukan mahasiswa teknik sipil atau PWK yang sangat paham mengenai proyek pembangunan, saya hanya mahasiswa biasa yang setiap hari pulang kuliah naik motor dan menyaksikan semakin hari semakin banyak gedung-gedung tinggi yang dibangun.
Saya tidak mau munafik untuk mengakui jika memang dalam gemuruh pembangunan tersebut ada beberapa dampak positif yang mengikuti. Penyerapan tenaga kerja, transportasi yang semakin maju, meningkatnya penjualan makanan dan souvenir lokal, devisa negara dan lain-lain. Akan tetapi alangkah lebih baiknya jika pembangunan tersebut lebih memperhatikan budaya lokal, hak-hak masyarakat pribumi, kesejahteraan dan kenyamanan bersama, seperti slogan yang sudah sangat melekat dalam elemen Jogjakarta. Toh kota Jogja ini bukan hanya milik penduduk pribumi saja, tapi bagi siapa saja yang tinggal dan mencintai Jogjakarta, kota ini milik kalian juga. Saya harap, kedepannya nanti, regulasi pemerintah juga memihak kepada masyarakat kecil dan memperhatikan keadilan bagi mereka. Jogjakarta sejatinya adalah milik mahasiswa, pengusaha, pedagang kecil, tukang becak, seniman, pekerja kantoran dan semua lapisan masyarakat.




Salam hangat dari saya, mahasiswa Jogja yang  menghirup udara dan minum air Jogja, dan sedang sangat merindukan kota Jogja yang bersahaja, rendah hati dan romantis.

Selasa, 16 Agustus 2016

Peperangan Tengah Malam



                Gadis itu memutuskan untuk mematikan lampu kamar. Pikirannya lelah minta direbahkan. Kamarnya gelap saja. Namun nyala rindunya tetap terang. Benderang. Sang pemintal rindu terlupa atau sengaja melupakan mantra untuk mematikannya. Setidaknya menjadikan nyala itu meredup. Agar nyalanya dapat bertahan lama meskipun diambang batas kematian. Tapi sekali lagi, ia tak keberatan. Gadis itu sama sekali tidak menginginkan rindu yang menyilaukan pandangan lalu dengan cepat akan tenggelam meninggalkan bumi. Tapi malam ini, rindunya terasa lain. Rindunya bersikap kurangajar, tidak sopan dan dengan seenaknya dia berbicara “Dasar gadis bodoh! Mengapa kau masih bersikukuh menyambutku? Padahal kaupun tahu betul bahwa Tuanku tak pernah mencintaimu”. Pertanyaan tersebut menyudutkannya. Tapi dia tak terkejut. Toh jika rindu itu tidak  menyeletuk tanpa rasa bersalah seperti  bocah ompong sekalipun, dia sudah tahu betul kebenarannya. Ya, pria yang selalu dia rindukan ternyata tak pernah mencintainya. Tiba-tiba pandangannya mengabur dan matanya meleleh seperti lilin kecil. Tapi bibirnya tetap terangkat keatas. Hatinya merasa hangat oleh senyumnya sendiri. Entah mengapa, saat lelehan bening embun menyembul disudut mata dan akhirnya terjatuh, mulutnya masih komat kamit melantunkan mantra doa. Ini hanya bening rindu biasa, kata gadis itu. Dia menitipkan segala rindu pada kerajaan langit. Dengan doanya senantiasa memeluk, dia hanya berharap prianya tak kedinginan ketika dicumbu malam. Gadis itu takut prianya menggigil. Karena sungguh, ia benci suara gertakan gigi. Memilukan. Menyuarakan sepi yang tiada tepi.  Yang ia tau, dingin identik dengan kesepian. Gadis itu selamanya memutuskan untuk membisu perihal rindu yang menggulung. Karena ia tahu, bahwa rindu tak harus menjadi sendu jika tak berujung temu. Terdengar kejam memang. Tapi rindu tak harus selalu diutarakan. Karena meskipun prianya seperti puisi kosong tanpa bait tanpa rima, gadis itu tetap jatuh cinta.
 Ah...Rindu itu. Rindu yang ia punya. Tetap bersikeras siap untuk digigilkan malam kemarau Jogjakarta. Setiap kali rindunya mampir, gadis itu hanya tersenyum kemudian mengambil air wudhu, memakai mukena dan bersiap mengadu pada Tuhan. Tak banyak yang ia minta dari Sang Maha Cinta, dia hanya berharap Tuhan selalu menjaga pria yang dicintainya, karena tangan mungilnya tak mampu melipat jarak yang membentang. Aduhai, adakah yang lebih manis dari ini? Dia tak pernah absen menyebut nama prianya dalam bilik mesranya dengan Sang Maha Romantis. Tak jarang mukenanya sampai memberat karena lelehan bening rindu yang ia tumpahkan. Namun rindu kali ini rasanya lain. Getir. Rindunya tak mau pergi bahkan setelah tahajud berusaha mengusirnya. Gadis itu menekuk dan memeluk lutut disudut kamar. Matanya masih saja terus meleleh. Mulutnya tetap berjuang membaca mantra untuk memadamkan nyala rindu yang semakin benderang dan semakin panas sehingga rasanya seperti membakar. bukan rindu seperti ini yang ia harapkan. Dia akhirnya menyerah dan mengaku kalah. Ah! Lagi-lagi rindu yang menjadi pemenangnya. Gadis itu lalu bangkit, beranjak ke dapur dan tak lama ia kembali membawa sesuatu ditangannya. Asapnya mengepul, aromanya familiar. Ya, dia membawa secangkir sepi beraroma kopi. Gadis itu jatuh cinta pada kafein yang selalu mampu membuatnya tertidur setelah lelah berseteru dengan rindu. Dan untuk kekalahan yang kesekian kali, ia membiarkan rindu menjadi selimutnya malam ini.

Jumat, 10 Juni 2016

Ibu Akhirnya Menyerah

Mendakilah, Nak. Mendakilah sampai mentari sejajar denganmu berdiri. Mendakilah Nak, sampai tubuhmu tak mampu menahan lelahnya berjalan. Mendakilah Nak, sampai tulangmu rasanya lepas dari tempat yang seharusnya. Mendakilah Nak, sampai dadamu terasa sesak dan sakit karena dingin luar biasa. Pergilah kamu yang jauh sampai akhirnya kamu tau apa itu rindu. Sampai kamu sadar dan mengakui bahwa rumahlah sebaik-baiknya tempat untuk pulang, senyaman-nyamannya sandaran saat kamu lelah dengan harimu.
Ibu takkan pernah melarangmu untuk mendaki lagi. Karena percuma sayang. Kau sama keras kepalanya dengan ibumu ini. Bagaimana kamu bisa 3 kali naik gunung tanpa restu dari ibu? Sampai kau membuang sandal yang hancur dan celana jeans yang kotor, sobek bekas gesekan dengan hitamnya aspal untuk menghilangkan jejak bahwa kau pernah jatuh dari motor saat perjalanan menuju Merbabu waktu itu, dan kau lupa membuang satu jejakmu, tas selempang yang juga sobek namun kau mungkin terlalu sayang untuk membuangnyaJ Kau akan tetap pergi ke gunung walaupun sekeras apa ibu melarangmu. Setelah kau hampir tersesat di Gunung Lawu dan hampir mengalami kebakaran karena puncak Gunung Ungaran terbakar setelah tepat kamu meninggalkan puncak. Ibu tidak pernah siap jika harus mendengar kabar yang lebih buruk suatu nanti kalau kamu tetap memaksa pergi ke tempat berhantu tanpa restu ibu. Ibu teringat pertengkaran kita saat kamu meminta ijin untuk pergi ke Merapi. “Ibu kan sudah bilang, kamu gaboleh naik gunung!!” lalu aku berteriak “AKU KAN JUGA SUDAH BILANG, AKU SUKA NAIK GUNUNG!!”. Lalu kau melirik sedikit dan kau tau carrierku sudah bersandar di sudut kamar. Ibu bisa apa? Dengan berat hati ibu memberikan ijin kau untuk pergi ke Gunung paling keramat itu.

Tapi Nak, berjanjilah untuk pulang.........

Ibu selalu menunggu cerita-cerita luar biasa yang kau bawa dari puncak sana. Ibu tak bisa lebih bahagia saat melihatmu begitu bersemangat, “Negeri diatas awan itu sungguh ada, Bu! Besok ibu harus lihat sendiri!!”. Ibu ingin tau cerita tentang petualangan-petualangan hebat anak gadis ibu. Ibu selalu ingin melihat setiap potret yang kau ambil di ketinggian ribuan mdpl. Ibu selalu terharu saat tau anak manja ibu yang kadang setiap sarapan harus disuapi, membawa beban carrier dan berjalan jauh dalam dingin dan basah. Tapi bukan itu yang membuat ibu bangga padamu, kamu selalu berhasil menahan tangis dan egoismu agar teman seperjalananmu tidak kerepotan. Padahal ibu tau betul kamu itu hobinya mengeluh. Padahal ibu tau betul, kau suka mendadak ingin pulang saat kamu merasa lelah dan puncak masih sangat jauh. Lalu saat kamu menunjukkan potret dengan papan bertuliskan “Puncak blablabla XXXX mdpl” ibu tau, ibu tak bisa menghalangi kamu untuk bahagia, Nak. Senyummu sedikit memaksa karena harus menahan gemeretak gigi oleh dinginnya kabut, raut wajah yang terlampau lelah tapi bahagia, dan kerudung serta jaket yang sudah sangat berdebu. Tapi ibu tau kau menikmatinya dan kau tidak menyesal. Walaupun dengan compang camping sana sini, tapi tidak ada senyum yang lebih manis dari senyuman puncakmu.


Melarang kamu naik gunung itu sama susahnya dengan melarang kamu minum kopi. Katamu, gunung dan kopi itu sudah paket komplit. Mendakilah, Nak, cuma kamu anak ibu yang mainnya berani sampai jauh

Senin, 06 Juni 2016

DI SISA HATI

Aku
Adalah pemilik takut paling tak masuk akal perihal kepergianmu.
Nyatanya setelah pernah patah
Mencintaimu tak penah menjadi hal yang mudah
Setidaknya bagiku
Traumaku menjadi semakin pekat, menghitam dan meninggi ke permukaan
Sering terbersit untuk menyerah dan beranjak
Mengusir secuil cerita kita.
Melupakan segala rasa.
Dan membunuh semua cinta.
Aku tak pernah siap untuk menjatuhkan lagi.
Mempercayakan lagi, pada mahkluk bermulut manis bernama lelaki.
Tetapi hanya karena senyumanmu di pagi hari itu.
Aku mengaku kalah.
Dan memilih mencoba percaya kembali.
Dengan sisa hati.



Jumat, 03 Juni 2016

KEGABUTAN MINGGU TENANG

Halooo!! Saya kurang produktif akhir-akhir ini, nulis blog enggak, belajar buat UAS apalagi hehehe. Saya aja ga ngerti didepan laptop mau ngapain dari tadi cuma ngetik hapus, ngetik lagi hapus lagi. Sampai akhirnya keputer lagunya Banda Neira di hp hape saya, yang judulnya Sampai Jadi Debu. Jadi gimana kalo kita bahas lagu ini aja? Hehe.

Ya wajarnya setiap manusia yang pernah merasakan jatuh cinta, pasti mempunyai ingin kalau seseorang yang dicintai bisa bersama-sama Sampai Jadi Debu. Dari yang masih sehat, jalan masih tegak, sampai salah satu dari kedua manusia itu menjadi debu, kembali ke bentuk sebagaimana manusia berasal. Akan tetapi pertanyaannya, dimana kita bisa menemukan makhluk yang mau menemani kita Sampai Jadi Debu? Saya sendiri kurang paham, sangat awam soal asmara. Semua puisi yang kalian baca itu sedikit omong kosong. Kalau kalian tau penulis puisi paling menyedihkan itu ya saya. Sangat pandai menulis aksara, menggambarkan sesosok kamu dengan sangat pandai, padahal saya sampai saat ini masih belum menemukan kamuL. Loh kok jadi ngomongin saya? Wkwk

Baiklah kembali ke Banda Neira. Dimana bisa menemukan manusia yang mau menemani kita Sampai Jadi Debu? Tanyakan Tuhan, apakah cukup menjawab atau ingin memukul saya? Saya sendiri juga kurang paham. Karena seharusnya seseorang memutuskan bersama karena menemukan keutuhan saat bercermin, bukan ketakutannya akan sepi. Jatuh cintalah saat kamu siap. Bentuk cinta seunik mungkin dan secintanya. Kalau belum menemukan? Perbaikilah diri, tak usah sibuk mencari, Karena saat semuanya memang sudah siap, seluruh semesta akan bersinergi untuk membawamu bertemu dengan seseorang yang akan menjadi penyempurna separuh agamamu, dengan cara yang tak pernah kau duga-duga. ah Tuhan memang maha romantis dan suka kejutan:3
 Ada bait lirik yang menggelitik saya “badai tuan telah berlalu, salahkah ku menuntut mesra?”. Apakah kemesraan merupakan sebuah tuntutan? Setiap manusia membutuhkan mesra dengan Tuhan atau dengan seseorang yang dicintai. Mesra diciptakan oleh rindu. Kapan terakhir kali kau rindu seseorang? Sudah lama? Atau sudah lupa? Atau kau rindu pada seseorang yang belum pernah kau temui sebelumnya? Salah satu memeluk rindu, menenangkan agar tidak menjadi brutal adalah dengan mendoakan. Doakan seseorang yang kau rindu, banyak yang bilang cara memeluk seseorang dari jauh adalah dengan doa, dan saya percaya. Baiklah, semoga kalian berbahagia dan segera menemukan seonggok daging bernama yang bersedia bersama kalian Sampai Jadi Debu! aamin 

Kamis, 02 Juni 2016

RAHASIA

Aku ini apa?
Hanya gadis pengecut
Yang hanya mampu menuangkanmu dalam sajak puisiku.
Ditengah malam, dengan segelas coklat panas.
Yang disetiap salatku,
Merangkum mu dalam bait doa dan aminku
Kau terlalu berharga untuk sebuah sementara
Dan terlalu mahal untuk ketidakpastian
Biar Tuhan menyimpan semuanya di langit
Hingga nanti saatnya tiba
Dia akan menjatuhkan satu persatu mimpi
Tidak ada yang tau bagaimana kita nanti.
Aku tidak, kaupun jua.
Akan tetapi, kita adalah suatu kemungkinan
Yang patut untuk diperjuangkan

PERTANYAAN TERBESAR

Bagaimana rasanya membenci seseorang yang seharusnya kau sayangi?
Bagaimana kau menutup lubang yang menganga dihatimu sejak belasan taun lalu?
Ada yang mati-matian direkatkan.
Disembunyikan dibagian tergelap hati
Lalu hanya karena sebuah buku yang ia baca
Semuanya lepas
Berantakan, berkeping, dan melukai lagi

Apakah Tuhan menerima kebaikan dari seseorang yang membenci ayahnya sendiri?

KITA YANG BEDA

Setiap orang pasti pernah mengalami jatuh cinta dan patah hati. Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap. Yang jadi inspirasi saya menulis kali ini adalah tentang kisah cinta.....yang berbeda. Bukan dari cerita pribadi, ini kisah dari orang-orang disekitar saya yang entah mungkin belum menemukan jawaban atas semua pertanyan-pertanyaan tentang sebuah perbedaan yang tidak ada jalan keluarnya. Jadi mungkin omong kosong ini akan membantu menjawab pertanyaan kalian, atau mungkin malah menambah keruwetan, entahlah kita lihat saja.

Katanya, Tuhan itu satu, tapi kenapa dalam hal penyebutan saja harus berbeda? Bukankah Tuhan itu satu? Mengapa tak kita seragamkan saja penyebutannya? Katanya semua agama itu saja mengajarkan tentang kebaikan dalam hidup. Tapi mengapa dalam agamamu anjing sesuatu yang halal sedangkan agamaku mengharamkannya? Bahkan dalam hal mendasar saja sudah berbeda. Apakah semua agama masih sama? Sayang, apakah kita masih sama? Katanya semua ibadah itu sama-sama menyembah Tuhan, hanya caranya saja yang berbeda, lalu jika aku sehari 5 kali dan kau mungkin seminggu sekali, apakah kita sama dekatnya dengan Tuhan? Sayang, apakah kita masih sama?
Katanya perbedaan itu indah, tetapi mengapa perbedaan kita rasanya tidak adil dan menyakitkan? Apakah perbedaan masih indah?  Lalu seseorang pernah berkata kepadaku bahwa setiap rasa cinta dalam hati manusia itu fitrah Tuhan, lalu mengapa agama kita tidak memperbolehkan kita mencoba bersama? Sayang, maukah kamu bertanya pada Tuhanmu, bolehkah aku yang bukan umatnya mencintai hambanya? Sebab banyak yang bilang keyakian adalah pondasi dan hubungan berbeda pondasi tidak akan pernah berhasil. Lalu mengapa Tuhan kita menumbuhkan cinta dihati manusia beda keyakinan ini?

Mungkin benar kata sebuah lagu legendaris jika kau pernah mendengar, seandainya didunia ini tidak ada agama pasti tidak ada kotak-kotak yang memisahkan, semua sama, semua rata. Tapi lagi-lagi kita tidak memiliki kekuatan seperti itu untuk membuatnya sedemikian rupa. Tuhan memiliki rencananya sendiri, yang kau tau, ataupun yang tidak. Kau hanya perlu berbaik sangka pada setiap kesengajaan yang Ia gariskan dalam hidupmu. Kamu mungkin lelah, karena hatimu berkali-kali patah, dan semua harapanmu musnah. Tapi Tuhan sebaik-baik penentu arah dan pemilik rencana. Percayalah semuanya akan baik-baik saja jika kamu mau percaya setiap kesengajaan yang Ia ciptakan.   

IMAJINASI

Aku tau, wanita paling suka dipotret
Sudah sepantasnya wanita menemukan lelaki seperti kamera
Yang setiap melihatnya, ia otomatis tersenyum
Dengan amat sangat manis
Penuh ketulusan dan kehangatan
Tapi apakah kau tau?
Aku tak pernah mampu menganalogikanmu dengan apapun
Aku tak perlu melihatmu untuk senyumku
Tak perlu pelukmu untuk nyamanku
Dan tak perlu wujudmu untuk legaku
Cukup dengan terpejam dan membayangkan
Aku seperti melihat banyak cerita yang akan terjadi


Rabu, 18 Mei 2016

Kuning Di atas Abu-abu


Oleh: -gangsal-
Ada yang paling kusukai saat berjalan di musim kemarau
Sepulang dari kuliah atau sekedar mencari ketenangan
Tidak ada yg menganggap istimewa
Tapi bagi gadis itu, sangatlah bersahaja
Tidak masalah
Bukankah hidup selalu punya banyak versi?

Ia selalu suka musim kemarau jalan itu
Pohon meranggas
Menanggalkan daun sampai tuntas
Kemudian ada kuning yang meretas
Tidak ada hijau, hanya kuning dan coklat
Sebagian jatuh ke aspal
Membiarkan terbawa angin atau ingatan
Gadis itu selalu mengulum senyum
Entah karena kuning diatas abu-abu yang sendu
Atau kenangan yang telah lalu

Keseimbangan


Oleh: -gangsal-
Lautan adalah semesta kita
Aku sebagai ombak dan kau laksana karang
Bagaimanapun bentuknya, horison kita selalu bertemu
Pemisahnya hanya setipis garis pantai

Kau adalah karang tertangguh diseluruh laut
Kau yang tetap tinggal meskipun amarah ombak berkali-kali datang
Gelombang yang tinggi
Menghantam apa saja, semuanya
Memukul seluruhmu
Menjadi ganas yang membutuhkan lampias

Kau tidak hanya bertahan
Tapi selalu berhasil memecah beringas ombak
Hingga menjadi sepercik air yang mengenai wajah
Meninggalkan sedikit kesegaran dan kesenangan
Menjadi tenang dan terkendali lagi
Menjadi tentram dan membuatku tak mampu pergi
Aku selalu kembali

Padamu yang tetap tegar berdiri

Kepada Hujan

Pada hari itu, hujan terasa lain dari biasanya, 1 Febuari 2016. Pada saat saya sendiri menuruni gunung berhantu itu, hujan membawa sesuatu yang lain. Angin, air, badai, dingin dan juga takdir. Hujan membawa saya bertemu dengan seorang lelaki yang entah rasanya seperti teman lama. Aneh memang. Tetapi entah kenapa saya suka. Hujan yang tentu saja diperintah Tuhan telah membawa saya kepadanya, tepat pada saat saya mengalami patah hati untuk kedua kalinya. Kedua? Iya. Yang pertama rasanya tidak perlu saya ceritakan disini, terlalu dingin dan menusuk. Untuk kedua kalinya saya ditinggalkan oleh makhluk manis bernama lelaki.

            Sore itu yang entah pukul berapa saya lupa, saya bertemu dengan seorang lelaki. Dari awal saya tahu, Tuhan tak pernah iseng dalam menyusun takdir. Dia manis. Dia apa adanya. Dia galak. Tapi saya tau dia baik. Hanya sekejap dan saya menyesali mengapa saya tidak bertemu dia sedari turun puncak. Apalagi kalau bukan ingin berlama-lama dengannya?:) sampai pada akhirnya saya berpisah, saya masih belum tau kalau dia memiliki nama seindah ituJ saya tidak pernah lupa bagaimana awal pertemuan kami, dan sepertinya takdir sedang berbaik hati kepada saya. 5 Febuari 2016, ada pesan mampir di handphone saya, singkat “haloo gadis gunung wkwk” tidak ada kesan apapun, saya pikir kami hanya akan berteman seadanya. Tetapi setelah berbulan kami berbicara, rasanya lain. Dia seperti sesuatu yang saya butuhkan agar saya tidak gila menjalani keruwetan hidup saya. Dia seperti obat, selalu menyembuhkan dan menenangkanJ

Hujan


Oleh: -gangsal-
Hujan itu apa?
Hujan itu irama termerdu yg turun dari puncak  nirwana
Membelai setiap helai daun dan sukma manusia
Memperuncing memori kepada yang telah lalu
Tentang seorang kekasih, mungkin?

Hujan itu apa?
Hujan itu dingin, lembab dan basah
Hyek! Aku tak suka
Tapi kamu datang sebagai kopi
Pahit dan berampas
Tapi hangat juga menenangkan

Ah setiap mengingatmu
Aku ingin hujan turun setiap hari
Agar aku bisa menikmati kepulan rindu beraroma sepimu



Butuh kamu


Oleh: -gangsal-
Di luar hujan lagi
Dengan sajaknya yang itu-itu saja
Memuakkan
Hanya berbeda rima saat ia menyentuh tiang, dedaunan atau rambut seseorang.
Pagi sebentar lagi lahir
Namun hujan masih bersikukuh menyambangiku
Berulang kali
Sepertinya dia senang melihatku rapuh saat ia menyentuh
Kemudian berlalu
Kamu tau?
Aku butuh kamu
Seperti aku butuh kopi agar tetap hidup di pagi hari
Aku butuh kamu
Seperti aku butuh coklat panas sebelum tidur agar tak menangis



Selamat


Oleh: -gangsal-
Selamat tinggal
Meski tak akan pernah ada yg benar-benar selamat setelah ditinggalkan
Selamat jalan
Meski tak akan pernah ada yg bisa berjalan setelah berpisah
Apa yang kau pelajari dari sebuah selamat?
Hm?

Selamat tak selamanya berarti euforia
Tak berarti bahagia
Dan tak berarti baik-baik saja
Apakah aku harus marah kepada pembuat kata selamat, sayang?
Karena kamu pernah mengucapkan selamat yang sama padaku
Dan pada saat itu aku amat sangat tidak selamat

Bisakah kita sepakat untuk tidak mengucapkan selamat saat perpisahan?J

Gelembung Sabun


Oleh: -gangsal-
Mereka memenuhi langit tengah malam aluna
Tanpa banyak bertanya akan dikibaskan kemana
Tanpa tau angin akan menuntunnya pada takdir yang seperti apa
Yang ia tau
Ia diciptakan untuk membahagiakan
Meskipun setelah itu harus mati
Ditepuk oleh tangan mungil bocah dengan gelak tawa dan ompong hitamnya
Atau harus berakhir
Dengan tertusuk rumput yang menengadah

Yang menantang langit tanpa bintang