Rabu, 18 Mei 2016

Kepada Hujan

Pada hari itu, hujan terasa lain dari biasanya, 1 Febuari 2016. Pada saat saya sendiri menuruni gunung berhantu itu, hujan membawa sesuatu yang lain. Angin, air, badai, dingin dan juga takdir. Hujan membawa saya bertemu dengan seorang lelaki yang entah rasanya seperti teman lama. Aneh memang. Tetapi entah kenapa saya suka. Hujan yang tentu saja diperintah Tuhan telah membawa saya kepadanya, tepat pada saat saya mengalami patah hati untuk kedua kalinya. Kedua? Iya. Yang pertama rasanya tidak perlu saya ceritakan disini, terlalu dingin dan menusuk. Untuk kedua kalinya saya ditinggalkan oleh makhluk manis bernama lelaki.

            Sore itu yang entah pukul berapa saya lupa, saya bertemu dengan seorang lelaki. Dari awal saya tahu, Tuhan tak pernah iseng dalam menyusun takdir. Dia manis. Dia apa adanya. Dia galak. Tapi saya tau dia baik. Hanya sekejap dan saya menyesali mengapa saya tidak bertemu dia sedari turun puncak. Apalagi kalau bukan ingin berlama-lama dengannya?:) sampai pada akhirnya saya berpisah, saya masih belum tau kalau dia memiliki nama seindah ituJ saya tidak pernah lupa bagaimana awal pertemuan kami, dan sepertinya takdir sedang berbaik hati kepada saya. 5 Febuari 2016, ada pesan mampir di handphone saya, singkat “haloo gadis gunung wkwk” tidak ada kesan apapun, saya pikir kami hanya akan berteman seadanya. Tetapi setelah berbulan kami berbicara, rasanya lain. Dia seperti sesuatu yang saya butuhkan agar saya tidak gila menjalani keruwetan hidup saya. Dia seperti obat, selalu menyembuhkan dan menenangkanJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar