Pada hari
itu, hujan terasa lain dari biasanya, 1 Febuari 2016. Pada saat saya sendiri
menuruni gunung berhantu itu, hujan membawa sesuatu yang lain. Angin, air,
badai, dingin dan juga takdir. Hujan membawa saya bertemu dengan seorang lelaki
yang entah rasanya seperti teman lama. Aneh memang. Tetapi entah kenapa saya
suka. Hujan yang tentu saja diperintah Tuhan telah membawa saya kepadanya,
tepat pada saat saya mengalami patah hati untuk kedua kalinya. Kedua? Iya. Yang
pertama rasanya tidak perlu saya ceritakan disini, terlalu dingin dan menusuk.
Untuk kedua kalinya saya ditinggalkan oleh makhluk manis bernama lelaki.
Sore itu yang entah pukul berapa
saya lupa, saya bertemu dengan seorang lelaki. Dari awal saya tahu, Tuhan tak
pernah iseng dalam menyusun takdir. Dia manis. Dia apa adanya. Dia galak. Tapi
saya tau dia baik. Hanya sekejap dan saya menyesali mengapa saya tidak bertemu
dia sedari turun puncak. Apalagi kalau bukan ingin berlama-lama dengannya?:) sampai
pada akhirnya saya berpisah, saya masih belum tau kalau dia memiliki nama
seindah ituJ saya tidak pernah lupa bagaimana awal pertemuan kami, dan
sepertinya takdir sedang berbaik hati kepada saya. 5 Febuari 2016, ada pesan
mampir di handphone saya, singkat “haloo gadis gunung wkwk” tidak ada kesan
apapun, saya pikir kami hanya akan berteman seadanya. Tetapi setelah berbulan
kami berbicara, rasanya lain. Dia seperti sesuatu yang saya butuhkan agar saya
tidak gila menjalani keruwetan hidup saya. Dia seperti obat, selalu menyembuhkan
dan menenangkanJ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar