Jumat, 10 Juni 2016

Ibu Akhirnya Menyerah

Mendakilah, Nak. Mendakilah sampai mentari sejajar denganmu berdiri. Mendakilah Nak, sampai tubuhmu tak mampu menahan lelahnya berjalan. Mendakilah Nak, sampai tulangmu rasanya lepas dari tempat yang seharusnya. Mendakilah Nak, sampai dadamu terasa sesak dan sakit karena dingin luar biasa. Pergilah kamu yang jauh sampai akhirnya kamu tau apa itu rindu. Sampai kamu sadar dan mengakui bahwa rumahlah sebaik-baiknya tempat untuk pulang, senyaman-nyamannya sandaran saat kamu lelah dengan harimu.
Ibu takkan pernah melarangmu untuk mendaki lagi. Karena percuma sayang. Kau sama keras kepalanya dengan ibumu ini. Bagaimana kamu bisa 3 kali naik gunung tanpa restu dari ibu? Sampai kau membuang sandal yang hancur dan celana jeans yang kotor, sobek bekas gesekan dengan hitamnya aspal untuk menghilangkan jejak bahwa kau pernah jatuh dari motor saat perjalanan menuju Merbabu waktu itu, dan kau lupa membuang satu jejakmu, tas selempang yang juga sobek namun kau mungkin terlalu sayang untuk membuangnyaJ Kau akan tetap pergi ke gunung walaupun sekeras apa ibu melarangmu. Setelah kau hampir tersesat di Gunung Lawu dan hampir mengalami kebakaran karena puncak Gunung Ungaran terbakar setelah tepat kamu meninggalkan puncak. Ibu tidak pernah siap jika harus mendengar kabar yang lebih buruk suatu nanti kalau kamu tetap memaksa pergi ke tempat berhantu tanpa restu ibu. Ibu teringat pertengkaran kita saat kamu meminta ijin untuk pergi ke Merapi. “Ibu kan sudah bilang, kamu gaboleh naik gunung!!” lalu aku berteriak “AKU KAN JUGA SUDAH BILANG, AKU SUKA NAIK GUNUNG!!”. Lalu kau melirik sedikit dan kau tau carrierku sudah bersandar di sudut kamar. Ibu bisa apa? Dengan berat hati ibu memberikan ijin kau untuk pergi ke Gunung paling keramat itu.

Tapi Nak, berjanjilah untuk pulang.........

Ibu selalu menunggu cerita-cerita luar biasa yang kau bawa dari puncak sana. Ibu tak bisa lebih bahagia saat melihatmu begitu bersemangat, “Negeri diatas awan itu sungguh ada, Bu! Besok ibu harus lihat sendiri!!”. Ibu ingin tau cerita tentang petualangan-petualangan hebat anak gadis ibu. Ibu selalu ingin melihat setiap potret yang kau ambil di ketinggian ribuan mdpl. Ibu selalu terharu saat tau anak manja ibu yang kadang setiap sarapan harus disuapi, membawa beban carrier dan berjalan jauh dalam dingin dan basah. Tapi bukan itu yang membuat ibu bangga padamu, kamu selalu berhasil menahan tangis dan egoismu agar teman seperjalananmu tidak kerepotan. Padahal ibu tau betul kamu itu hobinya mengeluh. Padahal ibu tau betul, kau suka mendadak ingin pulang saat kamu merasa lelah dan puncak masih sangat jauh. Lalu saat kamu menunjukkan potret dengan papan bertuliskan “Puncak blablabla XXXX mdpl” ibu tau, ibu tak bisa menghalangi kamu untuk bahagia, Nak. Senyummu sedikit memaksa karena harus menahan gemeretak gigi oleh dinginnya kabut, raut wajah yang terlampau lelah tapi bahagia, dan kerudung serta jaket yang sudah sangat berdebu. Tapi ibu tau kau menikmatinya dan kau tidak menyesal. Walaupun dengan compang camping sana sini, tapi tidak ada senyum yang lebih manis dari senyuman puncakmu.


Melarang kamu naik gunung itu sama susahnya dengan melarang kamu minum kopi. Katamu, gunung dan kopi itu sudah paket komplit. Mendakilah, Nak, cuma kamu anak ibu yang mainnya berani sampai jauh

Senin, 06 Juni 2016

DI SISA HATI

Aku
Adalah pemilik takut paling tak masuk akal perihal kepergianmu.
Nyatanya setelah pernah patah
Mencintaimu tak penah menjadi hal yang mudah
Setidaknya bagiku
Traumaku menjadi semakin pekat, menghitam dan meninggi ke permukaan
Sering terbersit untuk menyerah dan beranjak
Mengusir secuil cerita kita.
Melupakan segala rasa.
Dan membunuh semua cinta.
Aku tak pernah siap untuk menjatuhkan lagi.
Mempercayakan lagi, pada mahkluk bermulut manis bernama lelaki.
Tetapi hanya karena senyumanmu di pagi hari itu.
Aku mengaku kalah.
Dan memilih mencoba percaya kembali.
Dengan sisa hati.



Jumat, 03 Juni 2016

KEGABUTAN MINGGU TENANG

Halooo!! Saya kurang produktif akhir-akhir ini, nulis blog enggak, belajar buat UAS apalagi hehehe. Saya aja ga ngerti didepan laptop mau ngapain dari tadi cuma ngetik hapus, ngetik lagi hapus lagi. Sampai akhirnya keputer lagunya Banda Neira di hp hape saya, yang judulnya Sampai Jadi Debu. Jadi gimana kalo kita bahas lagu ini aja? Hehe.

Ya wajarnya setiap manusia yang pernah merasakan jatuh cinta, pasti mempunyai ingin kalau seseorang yang dicintai bisa bersama-sama Sampai Jadi Debu. Dari yang masih sehat, jalan masih tegak, sampai salah satu dari kedua manusia itu menjadi debu, kembali ke bentuk sebagaimana manusia berasal. Akan tetapi pertanyaannya, dimana kita bisa menemukan makhluk yang mau menemani kita Sampai Jadi Debu? Saya sendiri kurang paham, sangat awam soal asmara. Semua puisi yang kalian baca itu sedikit omong kosong. Kalau kalian tau penulis puisi paling menyedihkan itu ya saya. Sangat pandai menulis aksara, menggambarkan sesosok kamu dengan sangat pandai, padahal saya sampai saat ini masih belum menemukan kamuL. Loh kok jadi ngomongin saya? Wkwk

Baiklah kembali ke Banda Neira. Dimana bisa menemukan manusia yang mau menemani kita Sampai Jadi Debu? Tanyakan Tuhan, apakah cukup menjawab atau ingin memukul saya? Saya sendiri juga kurang paham. Karena seharusnya seseorang memutuskan bersama karena menemukan keutuhan saat bercermin, bukan ketakutannya akan sepi. Jatuh cintalah saat kamu siap. Bentuk cinta seunik mungkin dan secintanya. Kalau belum menemukan? Perbaikilah diri, tak usah sibuk mencari, Karena saat semuanya memang sudah siap, seluruh semesta akan bersinergi untuk membawamu bertemu dengan seseorang yang akan menjadi penyempurna separuh agamamu, dengan cara yang tak pernah kau duga-duga. ah Tuhan memang maha romantis dan suka kejutan:3
 Ada bait lirik yang menggelitik saya “badai tuan telah berlalu, salahkah ku menuntut mesra?”. Apakah kemesraan merupakan sebuah tuntutan? Setiap manusia membutuhkan mesra dengan Tuhan atau dengan seseorang yang dicintai. Mesra diciptakan oleh rindu. Kapan terakhir kali kau rindu seseorang? Sudah lama? Atau sudah lupa? Atau kau rindu pada seseorang yang belum pernah kau temui sebelumnya? Salah satu memeluk rindu, menenangkan agar tidak menjadi brutal adalah dengan mendoakan. Doakan seseorang yang kau rindu, banyak yang bilang cara memeluk seseorang dari jauh adalah dengan doa, dan saya percaya. Baiklah, semoga kalian berbahagia dan segera menemukan seonggok daging bernama yang bersedia bersama kalian Sampai Jadi Debu! aamin 

Kamis, 02 Juni 2016

RAHASIA

Aku ini apa?
Hanya gadis pengecut
Yang hanya mampu menuangkanmu dalam sajak puisiku.
Ditengah malam, dengan segelas coklat panas.
Yang disetiap salatku,
Merangkum mu dalam bait doa dan aminku
Kau terlalu berharga untuk sebuah sementara
Dan terlalu mahal untuk ketidakpastian
Biar Tuhan menyimpan semuanya di langit
Hingga nanti saatnya tiba
Dia akan menjatuhkan satu persatu mimpi
Tidak ada yang tau bagaimana kita nanti.
Aku tidak, kaupun jua.
Akan tetapi, kita adalah suatu kemungkinan
Yang patut untuk diperjuangkan

PERTANYAAN TERBESAR

Bagaimana rasanya membenci seseorang yang seharusnya kau sayangi?
Bagaimana kau menutup lubang yang menganga dihatimu sejak belasan taun lalu?
Ada yang mati-matian direkatkan.
Disembunyikan dibagian tergelap hati
Lalu hanya karena sebuah buku yang ia baca
Semuanya lepas
Berantakan, berkeping, dan melukai lagi

Apakah Tuhan menerima kebaikan dari seseorang yang membenci ayahnya sendiri?

KITA YANG BEDA

Setiap orang pasti pernah mengalami jatuh cinta dan patah hati. Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap. Yang jadi inspirasi saya menulis kali ini adalah tentang kisah cinta.....yang berbeda. Bukan dari cerita pribadi, ini kisah dari orang-orang disekitar saya yang entah mungkin belum menemukan jawaban atas semua pertanyan-pertanyaan tentang sebuah perbedaan yang tidak ada jalan keluarnya. Jadi mungkin omong kosong ini akan membantu menjawab pertanyaan kalian, atau mungkin malah menambah keruwetan, entahlah kita lihat saja.

Katanya, Tuhan itu satu, tapi kenapa dalam hal penyebutan saja harus berbeda? Bukankah Tuhan itu satu? Mengapa tak kita seragamkan saja penyebutannya? Katanya semua agama itu saja mengajarkan tentang kebaikan dalam hidup. Tapi mengapa dalam agamamu anjing sesuatu yang halal sedangkan agamaku mengharamkannya? Bahkan dalam hal mendasar saja sudah berbeda. Apakah semua agama masih sama? Sayang, apakah kita masih sama? Katanya semua ibadah itu sama-sama menyembah Tuhan, hanya caranya saja yang berbeda, lalu jika aku sehari 5 kali dan kau mungkin seminggu sekali, apakah kita sama dekatnya dengan Tuhan? Sayang, apakah kita masih sama?
Katanya perbedaan itu indah, tetapi mengapa perbedaan kita rasanya tidak adil dan menyakitkan? Apakah perbedaan masih indah?  Lalu seseorang pernah berkata kepadaku bahwa setiap rasa cinta dalam hati manusia itu fitrah Tuhan, lalu mengapa agama kita tidak memperbolehkan kita mencoba bersama? Sayang, maukah kamu bertanya pada Tuhanmu, bolehkah aku yang bukan umatnya mencintai hambanya? Sebab banyak yang bilang keyakian adalah pondasi dan hubungan berbeda pondasi tidak akan pernah berhasil. Lalu mengapa Tuhan kita menumbuhkan cinta dihati manusia beda keyakinan ini?

Mungkin benar kata sebuah lagu legendaris jika kau pernah mendengar, seandainya didunia ini tidak ada agama pasti tidak ada kotak-kotak yang memisahkan, semua sama, semua rata. Tapi lagi-lagi kita tidak memiliki kekuatan seperti itu untuk membuatnya sedemikian rupa. Tuhan memiliki rencananya sendiri, yang kau tau, ataupun yang tidak. Kau hanya perlu berbaik sangka pada setiap kesengajaan yang Ia gariskan dalam hidupmu. Kamu mungkin lelah, karena hatimu berkali-kali patah, dan semua harapanmu musnah. Tapi Tuhan sebaik-baik penentu arah dan pemilik rencana. Percayalah semuanya akan baik-baik saja jika kamu mau percaya setiap kesengajaan yang Ia ciptakan.   

IMAJINASI

Aku tau, wanita paling suka dipotret
Sudah sepantasnya wanita menemukan lelaki seperti kamera
Yang setiap melihatnya, ia otomatis tersenyum
Dengan amat sangat manis
Penuh ketulusan dan kehangatan
Tapi apakah kau tau?
Aku tak pernah mampu menganalogikanmu dengan apapun
Aku tak perlu melihatmu untuk senyumku
Tak perlu pelukmu untuk nyamanku
Dan tak perlu wujudmu untuk legaku
Cukup dengan terpejam dan membayangkan
Aku seperti melihat banyak cerita yang akan terjadi