Rabu, 18 Mei 2016

Kuning Di atas Abu-abu


Oleh: -gangsal-
Ada yang paling kusukai saat berjalan di musim kemarau
Sepulang dari kuliah atau sekedar mencari ketenangan
Tidak ada yg menganggap istimewa
Tapi bagi gadis itu, sangatlah bersahaja
Tidak masalah
Bukankah hidup selalu punya banyak versi?

Ia selalu suka musim kemarau jalan itu
Pohon meranggas
Menanggalkan daun sampai tuntas
Kemudian ada kuning yang meretas
Tidak ada hijau, hanya kuning dan coklat
Sebagian jatuh ke aspal
Membiarkan terbawa angin atau ingatan
Gadis itu selalu mengulum senyum
Entah karena kuning diatas abu-abu yang sendu
Atau kenangan yang telah lalu

Keseimbangan


Oleh: -gangsal-
Lautan adalah semesta kita
Aku sebagai ombak dan kau laksana karang
Bagaimanapun bentuknya, horison kita selalu bertemu
Pemisahnya hanya setipis garis pantai

Kau adalah karang tertangguh diseluruh laut
Kau yang tetap tinggal meskipun amarah ombak berkali-kali datang
Gelombang yang tinggi
Menghantam apa saja, semuanya
Memukul seluruhmu
Menjadi ganas yang membutuhkan lampias

Kau tidak hanya bertahan
Tapi selalu berhasil memecah beringas ombak
Hingga menjadi sepercik air yang mengenai wajah
Meninggalkan sedikit kesegaran dan kesenangan
Menjadi tenang dan terkendali lagi
Menjadi tentram dan membuatku tak mampu pergi
Aku selalu kembali

Padamu yang tetap tegar berdiri

Kepada Hujan

Pada hari itu, hujan terasa lain dari biasanya, 1 Febuari 2016. Pada saat saya sendiri menuruni gunung berhantu itu, hujan membawa sesuatu yang lain. Angin, air, badai, dingin dan juga takdir. Hujan membawa saya bertemu dengan seorang lelaki yang entah rasanya seperti teman lama. Aneh memang. Tetapi entah kenapa saya suka. Hujan yang tentu saja diperintah Tuhan telah membawa saya kepadanya, tepat pada saat saya mengalami patah hati untuk kedua kalinya. Kedua? Iya. Yang pertama rasanya tidak perlu saya ceritakan disini, terlalu dingin dan menusuk. Untuk kedua kalinya saya ditinggalkan oleh makhluk manis bernama lelaki.

            Sore itu yang entah pukul berapa saya lupa, saya bertemu dengan seorang lelaki. Dari awal saya tahu, Tuhan tak pernah iseng dalam menyusun takdir. Dia manis. Dia apa adanya. Dia galak. Tapi saya tau dia baik. Hanya sekejap dan saya menyesali mengapa saya tidak bertemu dia sedari turun puncak. Apalagi kalau bukan ingin berlama-lama dengannya?:) sampai pada akhirnya saya berpisah, saya masih belum tau kalau dia memiliki nama seindah ituJ saya tidak pernah lupa bagaimana awal pertemuan kami, dan sepertinya takdir sedang berbaik hati kepada saya. 5 Febuari 2016, ada pesan mampir di handphone saya, singkat “haloo gadis gunung wkwk” tidak ada kesan apapun, saya pikir kami hanya akan berteman seadanya. Tetapi setelah berbulan kami berbicara, rasanya lain. Dia seperti sesuatu yang saya butuhkan agar saya tidak gila menjalani keruwetan hidup saya. Dia seperti obat, selalu menyembuhkan dan menenangkanJ

Hujan


Oleh: -gangsal-
Hujan itu apa?
Hujan itu irama termerdu yg turun dari puncak  nirwana
Membelai setiap helai daun dan sukma manusia
Memperuncing memori kepada yang telah lalu
Tentang seorang kekasih, mungkin?

Hujan itu apa?
Hujan itu dingin, lembab dan basah
Hyek! Aku tak suka
Tapi kamu datang sebagai kopi
Pahit dan berampas
Tapi hangat juga menenangkan

Ah setiap mengingatmu
Aku ingin hujan turun setiap hari
Agar aku bisa menikmati kepulan rindu beraroma sepimu



Butuh kamu


Oleh: -gangsal-
Di luar hujan lagi
Dengan sajaknya yang itu-itu saja
Memuakkan
Hanya berbeda rima saat ia menyentuh tiang, dedaunan atau rambut seseorang.
Pagi sebentar lagi lahir
Namun hujan masih bersikukuh menyambangiku
Berulang kali
Sepertinya dia senang melihatku rapuh saat ia menyentuh
Kemudian berlalu
Kamu tau?
Aku butuh kamu
Seperti aku butuh kopi agar tetap hidup di pagi hari
Aku butuh kamu
Seperti aku butuh coklat panas sebelum tidur agar tak menangis



Selamat


Oleh: -gangsal-
Selamat tinggal
Meski tak akan pernah ada yg benar-benar selamat setelah ditinggalkan
Selamat jalan
Meski tak akan pernah ada yg bisa berjalan setelah berpisah
Apa yang kau pelajari dari sebuah selamat?
Hm?

Selamat tak selamanya berarti euforia
Tak berarti bahagia
Dan tak berarti baik-baik saja
Apakah aku harus marah kepada pembuat kata selamat, sayang?
Karena kamu pernah mengucapkan selamat yang sama padaku
Dan pada saat itu aku amat sangat tidak selamat

Bisakah kita sepakat untuk tidak mengucapkan selamat saat perpisahan?J

Gelembung Sabun


Oleh: -gangsal-
Mereka memenuhi langit tengah malam aluna
Tanpa banyak bertanya akan dikibaskan kemana
Tanpa tau angin akan menuntunnya pada takdir yang seperti apa
Yang ia tau
Ia diciptakan untuk membahagiakan
Meskipun setelah itu harus mati
Ditepuk oleh tangan mungil bocah dengan gelak tawa dan ompong hitamnya
Atau harus berakhir
Dengan tertusuk rumput yang menengadah

Yang menantang langit tanpa bintang