Rabu, 23 November 2016

(YANG KATANYA) Pecinta Alam Tetapi Nyatanya Karbitan


“Hi kamu! Dapet salam dari Puncak Lawu”

            “Adek kapan ndaki bareng abang? Mt Sumbing 3371 mdpl”

            “Nak ini mama waktu muda, Rinjani 3726 mdpl”

Sering melihat tulisan-tulisan sejenis itu bukan? Ya, naik gunung, belakangan ini menjadi kegiatan favorit semua kalangan. Dari pelajar, mahasiswa, bapak, ibu, manula, single, taken dan lain-lain. Pokoknya semuanya. Sepertinya kegiatan naik gunung sudah tidak semengerikan jaman dulu. Sekarang gunung sudah ramai warna warni tenda, terlebih pada saat hari-hari tertentu seperti hari kemerdekaan atau hari pahlawan diperingati. Tidak jarang, banyak pendaki yang harus rela tidak kebagian tempat untuk mendirikan kemah. Saya pribadi juga belum lama menjadi penikmat ketinggian gunung. Ijin yang diberikan Ibu belum lama turun, tepatnya menginjak semester 1 kuliah, saya baru diijinkan naik gunung, itupun naik gunung 2 kali nekat tanpa ijin. Sekali pemberontak tetaplah pemberontak

Tetapi bukan kisah hidup saya atau cerita pengalaman naik gunung yang ingin saya tulis disini.

Menjadi seorang pendaki atau yang mengatas-namakan pecinta alam, sudah sejatinya kalian benar-benar menghayati dan menerapkan apa yang telah kalian akui dan agung-agungkan. Kondisi gunung saat ini sangat kritis. Sampah dimana-mana, seperti sampah botol, plastik, limbah sisa masak, sampai kertas-kertas tulisan alay yang tersebar di gunung. Sebenarnya apa yang ingin kalian buktikan pada saat kalian naik gunung? Apakah kalian merasa hebat jika sudah berada di puncak gunung ini, puncak gunung itu? GUNUNG BUKAN TEMPAT SAMPAH!! Saya juga suka menulis saat mencapai puncak, untuk ucapan ulang tahun ibu saya setiap tahunnya. Tapi saya selalu berusaha untuk membawa sampah saya kembali turun dan dibuang dibasecamp. Bukankah sebelum kalian memulai pendakian pasti ada briefing singkat dari tim basecamp setempat? Tentang apa saja yang boleh dan dilarang saat kalian menyambangi gunung tertentu. Tetapi, para pendaki kekinian sepertinya menganggap sepele hal tersebut. Peraturan-peraturan dilanggar, bersikap tidak sopan, berlaku seenaknya, dan tidak menghormati alam.

Membuang sampah sembarangan

Tidak hanya sampah kertas tulisan-tulisan untuk orang terkasih, tapi mulai dari sampah plastik, botol kecap sampai pembalut wanita sangat sering saya jumpai di gunung. Sebernarnya apa yang memotivasi kalian naik gunung? Agar menuai pujian dinilai sebagai seorang yang tangguh karena sudah naik gunung sana-sinj? BASI! Gunung bukan tempat sampah besar yang bisa seenaknya kalian gunakan untuk membuang limbah senang-senangmu, kawan. Bawalah kembali sampahmu turun, kita semua ingin agar anak cucu kita masih bisa menikmati keindahan Indonesia kan? JAGA KEBERSIHAN GUNUNG!

Tidak memenuhi standar pendakian

Memakai sandal jepit. Gunung bukan mall atau jalanan aspal yang bisa membuatmu nyaman ketika memakai sandal jepit, memakai sepatu gunung sangat dianjurkan agar menghindari kesleo, gigitan hewan tanah seperti lintah, kram otot, atau yang paling parah hypotermia. Logistik yang seadanya. Membawa logistik sesuai perhitungan sangat penting ketika kalian akan melakukan pendakian, hitunglah berapa kali kalian makan selama digunung, lebih baik logistik sisa daripada kekurangan, terlebih persediaan air minum. Jika logistik kalian sisa, bisa diberikan kepada penjaga pos atau pendaki lain, jangan bersikap sok jagoan dengan membawa logistik seadanya, karena dapat berakibat fatal, ingat, gunung bukan perkotaan yang serba ada. Tidak membawa jaket dan baju ganti. Meskipun kalian sudah khatam naik gunung, tetap saja alam tidak dapat diprediksi, badai dan hujan bisa terjadi sewaktu-waktu, jadi membawa jaket dan baju ganti sangat dianjurkan. Terlalu banyak membawa barang tidak penting, seperti kamera dslr, gopro, action camp, tripod, tongsis dll bisa jadi merugikan diri kalian sendiri. Kalian sedang berada digunung, bukan di taman kota atau dufan. Mengabadikan momen terlebih pada saat digunung memang sangat menyenangkan, tetapi jangan lupa untuk mengutamakan keselamatan daripada kekinian.

MEMETIK BUNGA EDELWEIS

Hal yang paling saya sesalkan ketika naik gunung adalah melihat sebagian orang yang dengan sengaja memetik bunga abadi nan cantik ini untuk dibawa pulang. Sebagai seorang  yang (mengaku) mencintai alam, sudah sepantasnya menjaga kelestarian bunga edelweis. Bukan malah memetiknya lalu diberikan kepada pasangan. Bunga edelweis sangat dilindungi di gunung, terlebih ada beberapa warga lokal yang memanfaatkan bunga edelweis sebagai mata pencaharian. Jangan menjadi pendaki yang tidak tahu diri dengan seenaknya memetik edelweis. Memang cantik, tapi alangkah lebih cantik jika tidak di rusak, diabadikan dalam potret saja sudah cukup. Jika ingin memberikan pada yang terkasih, lebih baik kalian ajak pasangan kalian naik gunung agar bisa melihat edelweis bersama. Tentu akan lebih romantis

Saya pribadi bukan mahasiswa pecinta alam, hanya mahasiswa biasa yang menjadikan gunung sebagai tempat pelarian paling menantang dikala saya sudah penat dengan dunia perkuliahan dan menemukan tempat meditasi dan instropeksi diri terbaik. Karena bukan gunung yang saya taklukan, tapi diri sendiri.


Saya Estu Nasuha Isna, yang alhamdulillah masih mahasiswa, salam hangat dari saya pecandu ketinggian dan pecinta senja. Salam lestari!

Jumat, 18 November 2016

Jog(JAKARTA)


Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai seseorang yang telah menetap di Jogja selama 19 tahun lebih, tentunya kota Jogja bagi saya bukan sekedar tanah kelahiran, tapi sudah seperti rumah. Membicarakan Jogja tidak hanya melulu soal tugu, malioboro dan angkringan. Jogja lebih dari sekedar bersahaja dan kadang kelewat ramah kepada manusia sehingga manusia justru tidak menghargai kearifan lokal kota dengan slogan berhati nyaman. Seniman profesional sampai seniman jalanan bisa kalian jumpai saat kalian berkunjung ke kota gudeg ini. Jika kalian sempat, sambangi Malioboro dan kalian akan menyaksikn jutaan sudut yang penuh dengan karya seni. Ah...Jogjakarta! setiap orang yang pernah menetap, atau hanya sekedar singgah pastilah setuju bahwa setiap sudut kota Jogja itu romantis. Keistimewaan kota Jogja bukan hanya karena kota Jogja dipimpin oleh seorang Sri Sultan Hamengkubuowno sebagai seorang raja sekaligus gubernur, akan tetapi keramah-tamahan masyarakat kota Jogja menjadi daya tarik tersendiri. Kehangatan kopi joss dan canda tawa yang mengepul diudara oleh manusia-manusia yang ber haha hihi denga  kawan, sahabat atau kekasih, yang semakin malam justru semakin syahdu, menambah keistimewaan Jogja yang sejak ratusan tahun lalu sudah istimewa. Diselingi kata-kata kasar (misuhan) yang nyatanya malah menambah keakraban,

“Asuuuuu nengndi wae koe nyuk lagi ketok?”
“Wah aku sibuk kuliah boskuuu, bajilak tugas karo laporan e sak brayat”
“Hahahaha yawes kene lungguh kene karo ngopi, kangen aku ro koe sui ra weruh tak kiro nek mati”
“Cocoteeee”

Lalu mereka tertawa bersama-sama. Di Jogja, dalam keadaan tertentu, misuh bukanlah sesuatu yang bisa menimbulkan perpecahan, malah kadang, misuh adalah simbol kekariban.

Tapi bukan sisi baik dari Jogja yang membuat saya mau repot-repot menulis dihari sabtu yang sangat cerah sedikit mendung dan enaknya buat tidur.

Jogjakarta sekarang ini sudah sangat jauh berbeda dengan Jogja waktu saya kecil dulu. Mendapati julukan sebagai kota pendidkan, kota batik, kota pelajar dan kota periwisata nyatanya tidak selalu membawa dampak baik bagi tubuh Jogjakarta sendiri. Tidak bisa dipungkiri memang, memiliki salah satu kampus terbaik dan tertua di Indonesia membuat kota Jogja menjadi salah satu destinasi paling banyak diminati bagi pelajar yang ingin memperjuangkan gelar sarjana dan diploma. Akan tetapi, seiring bertambahnya jumlah mahasiswa, meningkat pula volume kendaraan yang memadati jalanan setiap jam-jam tertentu dan tak jarang menimbulkan kemacetan. Jogja memang tanah rantauan yang paling ramah jika dibandingkan dengan kota lain, selain living cost yang terbilang murah, kota Jogja tidak terlalu “berbahaya” bagi pendatang baru.

Akan tetapi, lagi-lagi bukan kemacetan yang ingin saya garis bawahi disini.

 Gemuruh pembangunan hotel, apartemen, pusat perbelanjaan dan lain-lain yang semakin lama semakin mengerikan dan terkesan kebut-kebutan membuat saya pribadi sedikit heran dan takut. Menjadi kota wisata yang paling diminati tentunya ini adalah konsekuensi yang harus ditanggung. Jumlah turis yang semakin lama semakin padat merayap membuat demand akan fasilitas-fasilitas penunjang kebahagiaan meningkat. Apakah izin pembangunan hotel dan kawan-kawannya itu memang sangat mudah di Jogjakarta? Saya kurang mengerti, yang saya tahu, pembangunan gedung pencakar langit yang gila-gilaan ini justru akan mengancam keistimewaan kota kelahiran saya. Lantas jika nantinya kota Jogja dipenuhi gedung-gedung tinggi, apa bedanya daerah istimewa ini dengan ibu kota yang infrastrukturnya amburadul itu? Melihat potensi kota Jogja yang menggiurkan beberapa dekade kedepan, membuat banyak sekali investor yang berlomba-lomba menanamkan saham di Jogja. Untuk sekedar membayangkannya saja sudah sangat mengerikan. Lantas apakah anak cucu kita nantinya tidak akan bisa mengenal keistimewaan Jogja selain karena dipimpin seorang raja? Lari kemana kearifan-kearifan yang selama ini dibangga-banggakan?
Sudahkah pemerintah daerah mempertimbangkan dampak apa saja yang akan ditimbulkan dari balapan pembangunan ini? Bagaimana dampaknya bagi lingkungan? Apakah AMDAL nya sudah benar dan tepat? Selain dampak terhadap lingkungan yang berupa pencemaran limbah yang dapat merusak ekosistem tanah, sungai dan lain-lain, apakah pemerintah sudah mempertimbangkan dampak sosial yang akan timbul dalam masyarakat? Kesenjangan sosial, melahirkan generasi yang apatis dan hanya mau memikirkan diri sendiri. Mengapa sepertinya regulasi sekarang ini sangat berpihak kepada para pemegang uang dan semakin menyudutkan rakyat lokal yang notabene tidak mempunyai uang sebanyak mereka yang menamai diri mereka investor. Saya bukan mahasiswa teknik sipil atau PWK yang sangat paham mengenai proyek pembangunan, saya hanya mahasiswa biasa yang setiap hari pulang kuliah naik motor dan menyaksikan semakin hari semakin banyak gedung-gedung tinggi yang dibangun.
Saya tidak mau munafik untuk mengakui jika memang dalam gemuruh pembangunan tersebut ada beberapa dampak positif yang mengikuti. Penyerapan tenaga kerja, transportasi yang semakin maju, meningkatnya penjualan makanan dan souvenir lokal, devisa negara dan lain-lain. Akan tetapi alangkah lebih baiknya jika pembangunan tersebut lebih memperhatikan budaya lokal, hak-hak masyarakat pribumi, kesejahteraan dan kenyamanan bersama, seperti slogan yang sudah sangat melekat dalam elemen Jogjakarta. Toh kota Jogja ini bukan hanya milik penduduk pribumi saja, tapi bagi siapa saja yang tinggal dan mencintai Jogjakarta, kota ini milik kalian juga. Saya harap, kedepannya nanti, regulasi pemerintah juga memihak kepada masyarakat kecil dan memperhatikan keadilan bagi mereka. Jogjakarta sejatinya adalah milik mahasiswa, pengusaha, pedagang kecil, tukang becak, seniman, pekerja kantoran dan semua lapisan masyarakat.




Salam hangat dari saya, mahasiswa Jogja yang  menghirup udara dan minum air Jogja, dan sedang sangat merindukan kota Jogja yang bersahaja, rendah hati dan romantis.