“Hi kamu! Dapet salam dari Puncak Lawu”
“Adek kapan ndaki bareng abang? Mt
Sumbing 3371 mdpl”
“Nak ini mama waktu muda, Rinjani
3726 mdpl”
Sering melihat tulisan-tulisan sejenis itu bukan? Ya, naik gunung,
belakangan ini menjadi kegiatan favorit semua kalangan. Dari pelajar,
mahasiswa, bapak, ibu, manula, single, taken dan lain-lain. Pokoknya semuanya.
Sepertinya kegiatan naik gunung sudah tidak semengerikan jaman dulu. Sekarang
gunung sudah ramai warna warni tenda, terlebih pada saat hari-hari tertentu
seperti hari kemerdekaan atau hari pahlawan diperingati. Tidak jarang, banyak
pendaki yang harus rela tidak kebagian tempat untuk mendirikan kemah. Saya
pribadi juga belum lama menjadi penikmat ketinggian gunung. Ijin yang diberikan
Ibu belum lama turun, tepatnya menginjak semester 1 kuliah, saya baru diijinkan
naik gunung, itupun naik gunung 2 kali nekat tanpa ijin. Sekali pemberontak
tetaplah pemberontak
Tetapi bukan kisah
hidup saya atau cerita pengalaman naik gunung yang ingin saya tulis disini.
Menjadi seorang pendaki atau yang mengatas-namakan pecinta alam, sudah
sejatinya kalian benar-benar menghayati dan menerapkan apa yang telah kalian
akui dan agung-agungkan. Kondisi gunung saat ini sangat kritis. Sampah dimana-mana, seperti sampah botol, plastik, limbah sisa masak, sampai kertas-kertas tulisan alay
yang tersebar di gunung. Sebenarnya apa yang ingin kalian buktikan pada saat
kalian naik gunung? Apakah kalian merasa hebat jika sudah berada di
puncak gunung ini, puncak gunung itu? GUNUNG BUKAN TEMPAT SAMPAH!! Saya juga
suka menulis saat mencapai puncak, untuk ucapan ulang tahun ibu saya setiap
tahunnya. Tapi saya selalu berusaha untuk membawa sampah saya kembali turun dan
dibuang dibasecamp. Bukankah sebelum kalian memulai pendakian pasti ada
briefing singkat dari tim basecamp setempat? Tentang apa saja yang boleh dan
dilarang saat kalian menyambangi gunung tertentu. Tetapi, para pendaki kekinian
sepertinya menganggap sepele hal tersebut. Peraturan-peraturan dilanggar,
bersikap tidak sopan, berlaku seenaknya, dan tidak menghormati alam.
Membuang sampah
sembarangan
Tidak hanya sampah kertas tulisan-tulisan untuk orang
terkasih, tapi mulai dari sampah plastik, botol kecap sampai pembalut wanita
sangat sering saya jumpai di gunung. Sebernarnya apa yang memotivasi kalian
naik gunung? Agar menuai pujian dinilai sebagai seorang yang tangguh karena
sudah naik gunung sana-sinj? BASI! Gunung bukan tempat sampah besar yang bisa
seenaknya kalian gunakan untuk membuang limbah senang-senangmu, kawan. Bawalah
kembali sampahmu turun, kita semua ingin agar anak cucu kita masih bisa
menikmati keindahan Indonesia kan? JAGA KEBERSIHAN GUNUNG!
Tidak memenuhi standar
pendakian
Memakai sandal jepit. Gunung bukan mall atau jalanan aspal
yang bisa membuatmu nyaman ketika memakai sandal jepit, memakai sepatu gunung
sangat dianjurkan agar menghindari kesleo, gigitan hewan tanah seperti lintah,
kram otot, atau yang paling parah hypotermia. Logistik yang seadanya. Membawa
logistik sesuai perhitungan sangat penting ketika kalian akan melakukan
pendakian, hitunglah berapa kali kalian makan selama digunung, lebih baik
logistik sisa daripada kekurangan, terlebih persediaan air minum. Jika logistik
kalian sisa, bisa diberikan kepada penjaga pos atau pendaki lain, jangan
bersikap sok jagoan dengan membawa logistik seadanya, karena dapat berakibat
fatal, ingat, gunung bukan perkotaan yang serba ada. Tidak membawa jaket dan
baju ganti. Meskipun kalian sudah khatam naik gunung, tetap saja alam tidak dapat
diprediksi, badai dan hujan bisa terjadi sewaktu-waktu, jadi membawa jaket dan
baju ganti sangat dianjurkan. Terlalu banyak membawa barang tidak penting,
seperti kamera dslr, gopro, action camp, tripod, tongsis dll bisa jadi merugikan diri kalian sendiri. Kalian sedang berada digunung, bukan di taman kota atau dufan. Mengabadikan
momen terlebih pada saat digunung memang sangat menyenangkan, tetapi jangan
lupa untuk mengutamakan keselamatan daripada kekinian.
MEMETIK BUNGA EDELWEIS
Hal yang paling saya sesalkan ketika naik gunung adalah
melihat sebagian orang yang dengan sengaja memetik bunga abadi nan cantik ini
untuk dibawa pulang. Sebagai seorang
yang (mengaku) mencintai alam, sudah sepantasnya menjaga kelestarian
bunga edelweis. Bukan malah memetiknya lalu diberikan kepada pasangan. Bunga
edelweis sangat dilindungi di gunung, terlebih ada beberapa warga lokal yang
memanfaatkan bunga edelweis sebagai mata pencaharian. Jangan menjadi pendaki
yang tidak tahu diri dengan seenaknya memetik edelweis. Memang cantik, tapi
alangkah lebih cantik jika tidak di rusak, diabadikan dalam potret saja sudah
cukup. Jika ingin memberikan pada yang terkasih, lebih baik kalian ajak
pasangan kalian naik gunung agar bisa melihat edelweis bersama. Tentu akan
lebih romantis
Saya pribadi bukan mahasiswa pecinta alam, hanya mahasiswa biasa yang menjadikan gunung sebagai tempat pelarian paling menantang dikala saya sudah penat dengan dunia perkuliahan dan menemukan tempat meditasi dan instropeksi diri terbaik. Karena bukan gunung
yang saya taklukan, tapi diri sendiri.
Saya Estu Nasuha Isna, yang alhamdulillah masih mahasiswa,
salam hangat dari saya pecandu ketinggian dan pecinta senja. Salam lestari!