Daerah
Istimewa Yogyakarta. Sebagai seseorang yang telah menetap di Jogja selama 19
tahun lebih, tentunya kota Jogja bagi saya bukan sekedar tanah kelahiran, tapi
sudah seperti rumah. Membicarakan Jogja tidak hanya melulu soal tugu, malioboro
dan angkringan. Jogja lebih dari sekedar bersahaja dan kadang kelewat ramah
kepada manusia sehingga manusia justru tidak menghargai kearifan lokal kota dengan
slogan berhati nyaman. Seniman profesional sampai seniman jalanan bisa kalian
jumpai saat kalian berkunjung ke kota gudeg ini. Jika kalian sempat, sambangi
Malioboro dan kalian akan menyaksikn jutaan sudut yang penuh dengan karya seni.
Ah...Jogjakarta! setiap orang yang pernah menetap, atau hanya sekedar singgah
pastilah setuju bahwa setiap sudut kota Jogja itu romantis. Keistimewaan kota
Jogja bukan hanya karena kota Jogja dipimpin oleh seorang Sri Sultan
Hamengkubuowno sebagai seorang raja sekaligus gubernur, akan tetapi
keramah-tamahan masyarakat kota Jogja menjadi daya tarik tersendiri. Kehangatan
kopi joss dan canda tawa yang mengepul diudara oleh manusia-manusia yang ber
haha hihi denga kawan, sahabat atau
kekasih, yang semakin malam justru semakin syahdu, menambah keistimewaan Jogja
yang sejak ratusan tahun lalu sudah istimewa. Diselingi kata-kata kasar
(misuhan) yang nyatanya malah menambah keakraban,
“Asuuuuu
nengndi wae koe nyuk lagi ketok?”
“Wah
aku sibuk kuliah boskuuu, bajilak tugas karo laporan e sak brayat”
“Hahahaha
yawes kene lungguh kene karo ngopi, kangen aku ro koe sui ra weruh tak kiro nek
mati”
“Cocoteeee”
Lalu
mereka tertawa bersama-sama. Di Jogja, dalam keadaan tertentu, misuh bukanlah
sesuatu yang bisa menimbulkan perpecahan, malah kadang, misuh adalah simbol
kekariban.
Tapi
bukan sisi baik dari Jogja yang membuat saya mau repot-repot menulis dihari
sabtu yang sangat cerah sedikit mendung dan enaknya buat tidur.
Jogjakarta
sekarang ini sudah sangat jauh berbeda dengan Jogja waktu saya kecil dulu.
Mendapati julukan sebagai kota pendidkan, kota batik, kota pelajar dan kota
periwisata nyatanya tidak selalu membawa dampak baik bagi tubuh Jogjakarta
sendiri. Tidak bisa dipungkiri memang, memiliki salah satu kampus terbaik dan
tertua di Indonesia membuat kota Jogja menjadi salah satu destinasi paling
banyak diminati bagi pelajar yang ingin memperjuangkan gelar sarjana dan diploma.
Akan tetapi, seiring bertambahnya jumlah mahasiswa, meningkat pula volume
kendaraan yang memadati jalanan setiap jam-jam tertentu dan tak jarang
menimbulkan kemacetan. Jogja memang tanah rantauan yang paling ramah jika
dibandingkan dengan kota lain, selain living cost yang terbilang murah, kota
Jogja tidak terlalu “berbahaya” bagi pendatang baru.
Akan
tetapi, lagi-lagi bukan kemacetan yang ingin saya garis bawahi disini.
Gemuruh pembangunan hotel, apartemen, pusat
perbelanjaan dan lain-lain yang semakin lama semakin mengerikan dan terkesan
kebut-kebutan membuat saya pribadi sedikit heran dan takut. Menjadi kota wisata
yang paling diminati tentunya ini adalah konsekuensi yang harus ditanggung.
Jumlah turis yang semakin lama semakin padat merayap membuat demand akan
fasilitas-fasilitas penunjang kebahagiaan meningkat. Apakah izin pembangunan
hotel dan kawan-kawannya itu memang sangat mudah di Jogjakarta? Saya kurang
mengerti, yang saya tahu, pembangunan gedung pencakar langit yang gila-gilaan
ini justru akan mengancam keistimewaan kota kelahiran saya. Lantas jika
nantinya kota Jogja dipenuhi gedung-gedung tinggi, apa bedanya daerah istimewa
ini dengan ibu kota yang infrastrukturnya amburadul itu? Melihat potensi kota
Jogja yang menggiurkan beberapa dekade kedepan, membuat banyak sekali investor
yang berlomba-lomba menanamkan saham di Jogja. Untuk sekedar membayangkannya
saja sudah sangat mengerikan. Lantas apakah anak cucu kita nantinya tidak akan
bisa mengenal keistimewaan Jogja selain karena dipimpin seorang raja? Lari
kemana kearifan-kearifan yang selama ini dibangga-banggakan?
Sudahkah
pemerintah daerah mempertimbangkan dampak apa saja yang akan ditimbulkan dari
balapan pembangunan ini? Bagaimana dampaknya bagi lingkungan? Apakah AMDAL nya
sudah benar dan tepat? Selain dampak terhadap lingkungan yang berupa pencemaran
limbah yang dapat merusak ekosistem tanah, sungai dan lain-lain, apakah
pemerintah sudah mempertimbangkan dampak sosial yang akan timbul dalam
masyarakat? Kesenjangan sosial, melahirkan generasi yang apatis dan hanya mau
memikirkan diri sendiri. Mengapa sepertinya regulasi sekarang ini sangat
berpihak kepada para pemegang uang dan semakin menyudutkan rakyat lokal yang
notabene tidak mempunyai uang sebanyak mereka yang menamai diri mereka
investor. Saya bukan mahasiswa teknik sipil atau PWK yang sangat paham mengenai
proyek pembangunan, saya hanya mahasiswa biasa yang setiap hari pulang kuliah
naik motor dan menyaksikan semakin hari semakin banyak gedung-gedung tinggi
yang dibangun.
Saya
tidak mau munafik untuk mengakui jika memang dalam gemuruh pembangunan tersebut
ada beberapa dampak positif yang mengikuti. Penyerapan tenaga kerja,
transportasi yang semakin maju, meningkatnya penjualan makanan dan souvenir
lokal, devisa negara dan lain-lain. Akan tetapi alangkah lebih baiknya jika
pembangunan tersebut lebih memperhatikan budaya lokal, hak-hak masyarakat
pribumi, kesejahteraan dan kenyamanan bersama, seperti slogan yang sudah sangat
melekat dalam elemen Jogjakarta. Toh kota Jogja ini bukan hanya milik penduduk
pribumi saja, tapi bagi siapa saja yang tinggal dan mencintai Jogjakarta, kota
ini milik kalian juga. Saya harap, kedepannya nanti, regulasi pemerintah juga
memihak kepada masyarakat kecil dan memperhatikan keadilan bagi mereka.
Jogjakarta sejatinya adalah milik mahasiswa, pengusaha, pedagang kecil, tukang
becak, seniman, pekerja kantoran dan semua lapisan masyarakat.
Salam
hangat dari saya, mahasiswa Jogja yang
menghirup udara dan minum air Jogja, dan sedang sangat merindukan kota
Jogja yang bersahaja, rendah hati dan romantis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar