Gadis itu
memutuskan untuk mematikan lampu kamar. Pikirannya lelah minta direbahkan. Kamarnya
gelap saja. Namun nyala rindunya tetap terang. Benderang. Sang pemintal rindu
terlupa atau sengaja melupakan mantra untuk mematikannya. Setidaknya menjadikan
nyala itu meredup. Agar nyalanya dapat bertahan lama meskipun diambang batas
kematian. Tapi sekali lagi, ia tak keberatan. Gadis itu sama sekali tidak
menginginkan rindu yang menyilaukan pandangan lalu dengan cepat akan tenggelam
meninggalkan bumi. Tapi malam ini, rindunya terasa lain. Rindunya bersikap
kurangajar, tidak sopan dan dengan seenaknya dia berbicara “Dasar gadis bodoh! Mengapa
kau masih bersikukuh menyambutku? Padahal kaupun tahu betul bahwa Tuanku tak
pernah mencintaimu”. Pertanyaan tersebut menyudutkannya. Tapi dia tak terkejut.
Toh jika rindu itu tidak menyeletuk
tanpa rasa bersalah seperti bocah ompong
sekalipun, dia sudah tahu betul kebenarannya. Ya, pria yang selalu dia rindukan
ternyata tak pernah mencintainya. Tiba-tiba pandangannya mengabur dan matanya
meleleh seperti lilin kecil. Tapi bibirnya tetap terangkat keatas. Hatinya merasa
hangat oleh senyumnya sendiri. Entah mengapa, saat lelehan bening embun
menyembul disudut mata dan akhirnya terjatuh, mulutnya masih komat kamit
melantunkan mantra doa. Ini hanya bening rindu biasa, kata gadis itu. Dia menitipkan
segala rindu pada kerajaan langit. Dengan doanya senantiasa memeluk, dia hanya
berharap prianya tak kedinginan ketika dicumbu malam. Gadis itu takut prianya
menggigil. Karena sungguh, ia benci suara gertakan gigi. Memilukan. Menyuarakan
sepi yang tiada tepi. Yang ia tau, dingin
identik dengan kesepian. Gadis itu selamanya memutuskan untuk membisu perihal
rindu yang menggulung. Karena ia tahu, bahwa rindu tak harus menjadi sendu jika
tak berujung temu. Terdengar kejam memang. Tapi rindu tak harus selalu
diutarakan. Karena meskipun prianya seperti puisi kosong tanpa bait tanpa rima,
gadis itu tetap jatuh cinta.
Ah...Rindu itu. Rindu yang ia punya. Tetap
bersikeras siap untuk digigilkan malam kemarau Jogjakarta. Setiap kali rindunya
mampir, gadis itu hanya tersenyum kemudian mengambil air wudhu, memakai mukena
dan bersiap mengadu pada Tuhan. Tak banyak yang ia minta dari Sang Maha Cinta,
dia hanya berharap Tuhan selalu menjaga pria yang dicintainya, karena tangan
mungilnya tak mampu melipat jarak yang membentang. Aduhai, adakah yang lebih
manis dari ini? Dia tak pernah absen menyebut nama prianya dalam bilik mesranya
dengan Sang Maha Romantis. Tak jarang mukenanya sampai memberat karena lelehan
bening rindu yang ia tumpahkan. Namun rindu kali ini rasanya lain. Getir. Rindunya
tak mau pergi bahkan setelah tahajud berusaha mengusirnya. Gadis itu menekuk
dan memeluk lutut disudut kamar. Matanya masih saja terus meleleh. Mulutnya tetap
berjuang membaca mantra untuk memadamkan nyala rindu yang semakin benderang dan
semakin panas sehingga rasanya seperti membakar. bukan rindu seperti ini yang ia harapkan. Dia akhirnya menyerah dan
mengaku kalah. Ah! Lagi-lagi rindu yang menjadi pemenangnya. Gadis itu lalu
bangkit, beranjak ke dapur dan tak lama ia kembali membawa sesuatu ditangannya.
Asapnya mengepul, aromanya familiar. Ya, dia membawa secangkir sepi beraroma
kopi. Gadis itu jatuh cinta pada kafein yang selalu mampu membuatnya tertidur
setelah lelah berseteru dengan rindu. Dan untuk kekalahan yang kesekian kali,
ia membiarkan rindu menjadi selimutnya malam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar