Selasa, 16 Agustus 2016

Peperangan Tengah Malam



                Gadis itu memutuskan untuk mematikan lampu kamar. Pikirannya lelah minta direbahkan. Kamarnya gelap saja. Namun nyala rindunya tetap terang. Benderang. Sang pemintal rindu terlupa atau sengaja melupakan mantra untuk mematikannya. Setidaknya menjadikan nyala itu meredup. Agar nyalanya dapat bertahan lama meskipun diambang batas kematian. Tapi sekali lagi, ia tak keberatan. Gadis itu sama sekali tidak menginginkan rindu yang menyilaukan pandangan lalu dengan cepat akan tenggelam meninggalkan bumi. Tapi malam ini, rindunya terasa lain. Rindunya bersikap kurangajar, tidak sopan dan dengan seenaknya dia berbicara “Dasar gadis bodoh! Mengapa kau masih bersikukuh menyambutku? Padahal kaupun tahu betul bahwa Tuanku tak pernah mencintaimu”. Pertanyaan tersebut menyudutkannya. Tapi dia tak terkejut. Toh jika rindu itu tidak  menyeletuk tanpa rasa bersalah seperti  bocah ompong sekalipun, dia sudah tahu betul kebenarannya. Ya, pria yang selalu dia rindukan ternyata tak pernah mencintainya. Tiba-tiba pandangannya mengabur dan matanya meleleh seperti lilin kecil. Tapi bibirnya tetap terangkat keatas. Hatinya merasa hangat oleh senyumnya sendiri. Entah mengapa, saat lelehan bening embun menyembul disudut mata dan akhirnya terjatuh, mulutnya masih komat kamit melantunkan mantra doa. Ini hanya bening rindu biasa, kata gadis itu. Dia menitipkan segala rindu pada kerajaan langit. Dengan doanya senantiasa memeluk, dia hanya berharap prianya tak kedinginan ketika dicumbu malam. Gadis itu takut prianya menggigil. Karena sungguh, ia benci suara gertakan gigi. Memilukan. Menyuarakan sepi yang tiada tepi.  Yang ia tau, dingin identik dengan kesepian. Gadis itu selamanya memutuskan untuk membisu perihal rindu yang menggulung. Karena ia tahu, bahwa rindu tak harus menjadi sendu jika tak berujung temu. Terdengar kejam memang. Tapi rindu tak harus selalu diutarakan. Karena meskipun prianya seperti puisi kosong tanpa bait tanpa rima, gadis itu tetap jatuh cinta.
 Ah...Rindu itu. Rindu yang ia punya. Tetap bersikeras siap untuk digigilkan malam kemarau Jogjakarta. Setiap kali rindunya mampir, gadis itu hanya tersenyum kemudian mengambil air wudhu, memakai mukena dan bersiap mengadu pada Tuhan. Tak banyak yang ia minta dari Sang Maha Cinta, dia hanya berharap Tuhan selalu menjaga pria yang dicintainya, karena tangan mungilnya tak mampu melipat jarak yang membentang. Aduhai, adakah yang lebih manis dari ini? Dia tak pernah absen menyebut nama prianya dalam bilik mesranya dengan Sang Maha Romantis. Tak jarang mukenanya sampai memberat karena lelehan bening rindu yang ia tumpahkan. Namun rindu kali ini rasanya lain. Getir. Rindunya tak mau pergi bahkan setelah tahajud berusaha mengusirnya. Gadis itu menekuk dan memeluk lutut disudut kamar. Matanya masih saja terus meleleh. Mulutnya tetap berjuang membaca mantra untuk memadamkan nyala rindu yang semakin benderang dan semakin panas sehingga rasanya seperti membakar. bukan rindu seperti ini yang ia harapkan. Dia akhirnya menyerah dan mengaku kalah. Ah! Lagi-lagi rindu yang menjadi pemenangnya. Gadis itu lalu bangkit, beranjak ke dapur dan tak lama ia kembali membawa sesuatu ditangannya. Asapnya mengepul, aromanya familiar. Ya, dia membawa secangkir sepi beraroma kopi. Gadis itu jatuh cinta pada kafein yang selalu mampu membuatnya tertidur setelah lelah berseteru dengan rindu. Dan untuk kekalahan yang kesekian kali, ia membiarkan rindu menjadi selimutnya malam ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar