Mendakilah,
Nak. Mendakilah sampai mentari sejajar denganmu berdiri. Mendakilah Nak, sampai
tubuhmu tak mampu menahan lelahnya berjalan. Mendakilah Nak, sampai tulangmu
rasanya lepas dari tempat yang seharusnya. Mendakilah Nak, sampai dadamu terasa
sesak dan sakit karena dingin luar biasa. Pergilah kamu yang jauh sampai
akhirnya kamu tau apa itu rindu. Sampai kamu sadar dan mengakui bahwa rumahlah
sebaik-baiknya tempat untuk pulang, senyaman-nyamannya sandaran saat kamu lelah
dengan harimu.
Ibu
takkan pernah melarangmu untuk mendaki lagi. Karena percuma sayang. Kau sama
keras kepalanya dengan ibumu ini. Bagaimana kamu bisa 3 kali naik gunung tanpa
restu dari ibu? Sampai kau membuang sandal yang hancur dan celana jeans yang
kotor, sobek bekas gesekan dengan hitamnya aspal untuk menghilangkan jejak
bahwa kau pernah jatuh dari motor saat perjalanan menuju Merbabu waktu itu, dan
kau lupa membuang satu jejakmu, tas selempang yang juga sobek namun kau mungkin
terlalu sayang untuk membuangnyaJ Kau
akan tetap pergi ke gunung walaupun sekeras apa ibu melarangmu. Setelah kau
hampir tersesat di Gunung Lawu dan hampir mengalami kebakaran karena puncak
Gunung Ungaran terbakar setelah tepat kamu meninggalkan puncak. Ibu tidak
pernah siap jika harus mendengar kabar yang lebih buruk suatu nanti kalau kamu
tetap memaksa pergi ke tempat berhantu tanpa restu ibu. Ibu teringat
pertengkaran kita saat kamu meminta ijin untuk pergi ke Merapi. “Ibu kan sudah
bilang, kamu gaboleh naik gunung!!” lalu aku berteriak “AKU KAN JUGA SUDAH BILANG,
AKU SUKA NAIK GUNUNG!!”. Lalu kau melirik sedikit dan kau tau carrierku sudah
bersandar di sudut kamar. Ibu bisa apa? Dengan berat hati ibu memberikan ijin
kau untuk pergi ke Gunung paling keramat itu.
Tapi
Nak, berjanjilah untuk pulang.........
Ibu
selalu menunggu cerita-cerita luar biasa yang kau bawa dari puncak sana. Ibu
tak bisa lebih bahagia saat melihatmu begitu bersemangat, “Negeri diatas awan
itu sungguh ada, Bu! Besok ibu harus lihat sendiri!!”. Ibu ingin tau cerita
tentang petualangan-petualangan hebat anak gadis ibu. Ibu selalu ingin melihat
setiap potret yang kau ambil di ketinggian ribuan mdpl. Ibu selalu terharu saat
tau anak manja ibu yang kadang setiap sarapan harus disuapi, membawa beban
carrier dan berjalan jauh dalam dingin dan basah. Tapi bukan itu yang membuat
ibu bangga padamu, kamu selalu berhasil menahan tangis dan egoismu agar teman
seperjalananmu tidak kerepotan. Padahal ibu tau betul kamu itu hobinya
mengeluh. Padahal ibu tau betul, kau suka mendadak ingin pulang saat kamu merasa
lelah dan puncak masih sangat jauh. Lalu saat kamu menunjukkan potret dengan
papan bertuliskan “Puncak blablabla XXXX mdpl” ibu tau, ibu tak bisa
menghalangi kamu untuk bahagia, Nak. Senyummu sedikit memaksa karena harus
menahan gemeretak gigi oleh dinginnya kabut, raut wajah yang terlampau lelah
tapi bahagia, dan kerudung serta jaket yang sudah sangat berdebu. Tapi ibu tau
kau menikmatinya dan kau tidak menyesal. Walaupun dengan compang camping sana
sini, tapi tidak ada senyum yang lebih manis dari senyuman puncakmu.
Melarang
kamu naik gunung itu sama susahnya dengan melarang kamu minum kopi. Katamu,
gunung dan kopi itu sudah paket komplit. Mendakilah, Nak, cuma kamu anak ibu
yang mainnya berani sampai jauh
Jangab lupa pake helm kalo main jauh jauh wkwkwk
BalasHapusEh ada tara
BalasHapusEh kalian?
BalasHapusAKU SUKA INI SRI!!!
BalasHapus